Patahu Balai Bukit Batu

Gambar Patahu (Keramat) Hindu Kaharingan

sawang ngandong

Pohon sawang Pohon Sakral Umat Hindu Kaharingan

sawang ngandong

Sawang Ngandang Mijen Bukit Tunjung Nyahu Kereng Sapahangkat Kilat

Pohon sawang Ngandang adalah salah satu pohon sakral yang dipergunakan dalam upacara keagamaan, khususnya agama Hindu Kaharingan. Adapun penguasa sawang adalah Jatha Lalunjung Sawang yang tinggal di negeri Batu Nindan Tarung.

Upacara keagamaan Hindu Kaharingan yang mempergunakan pohon sawang seperti dalam pelaksanaan upacara Perkawinan, Nahunan, upacara Balaku untung atau Mambuhul dan masih banyak upacara lainnya. Continue reading

Nopran Hiang sandah

Ritual Hiang Sandah Umat Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah

Nopran Hiang sandah

Nopran Hiang sandah

Ritual Hiang Sandah adalah ritual ucapan syukur keluarga (umat Hindu kaharingan daerah aliran sungai Katingan) atas pertolongan Sangiang Hiang Sandah membantu ibu dalam melahirkan seorang anak dan sekaligus ritual pemberian nama seorang anak.

Ritual ini merupakan salah satu rentetan ritual kelahiran yang selalu dilakukan oleh Umat Hindu Kaharingan didaerah aliran sungai Katingan karena ini merupakan suatu ucapan syukur atas pertolongan dan berkat Ranying Hatala melewati sangiang Hiang Sandah yang telah membantu ibu dalam melahirkan sehingga bayi juga dapat lahir dengan selamat dan menjaga keseimbangan alam semesta antara Manusia dengan Ranying Hatala, manusia dengan alam lingkungan dan manusia dengan manusia selain itu juga merupakan wujud pelestariaan ritual dan adat kebiasaan.

Proses Ritual ini dilakukan selama 2 (dua) hari yaitu pada hari pertama dilakukan prosesi ritual mampandui awau (memandikan anak) dengan rentetan ritual yaitu mampalua awau bara pasah (mengeluarkan anak dari luar rumah), Manyamenget awau baun bapatah umba petak (manyamenget anak didepan rumah dengan tanah), mampandui awau (memandikan anak) dan mampelep punduk enyuh (mematikan tangkai kelapa yang dibakar). Pada hari kedua ritual dilakukan dengan menyiapkan sesajen untuk ritual berupa keu Randang, Cucur, pulut babilem /ketan hitam, pulut baputi/ketan putih, membunuh hewan korban berupa ayam untuk warna bulu bisa warna apa saja tetapi kalau anak laki-laki maka hewan korbannya ayam betina begitu juga sebaliknya jika anak perempuan hewan korbannya ayam jantan, memangang Sagala (terbuat dari bambu dan di dalamnya di isi beras ketan) dan asip biasa (terbuat dari bambu dan di dalamnya di isi beras biasa dicampur dengan bagian dalam isi hewan korban), kemudian menyiapkan seluruh sesajen di amak purun setelah semua sesajen siap diamak purun seorang Rohaniawan/pisor akan memimpin prosesi ritual dengan manyaki dan mangaru sesajen dilanjut dengan mangaru behas tawur, narinjet behas, mananjung tawur ke pantai danum Sangiang setelah selesai manawur maka Rohaniawan/pisor mangahau Hiang Sandah didepan pintu dengan mengunakan ayat-ayat suci doa agama Hindu Kaharingan dalam bahasa Sangiang dilanjutkan dengan ritual Pisor kuman dan mihup danum sebagai simbol bahwa Sangiang Hiang Sandah sudah menerima ucapan syukur keluarga dilanjutkan dengan Manyipa dan masang Katune.

Dengan prosesi ritual yang memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi yaitu menunjukkan betapa besarnya Kasih Sayang dan Cinta orang tua kepada anaknya hal ini ditunjukkan dengan orang tua mengendong anak juga menggunakan sapuyung metok dimana pada pada sapuyung metok disisipkan uru/rumput sasaka, sambilu, langeh/akar simbel dan membawa punduk enyuh yang ditaruh pada palindung serta manyamenget anak dengan tanah karena itu merupakan pertama kalinnya seorang anak keluar dari rumah. Kasih sayang yang ditunjukan oleh orang tua

Pada ritual ini juga orang tua mendo’akan dan menaruh harapan besar kepada anaknya kelak menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, masyarakat/orang banyak bangsa dan negara hal ini ditunjukan dengan do’a yang disampaikan dalam bahasa sangiang ketika mematikan punduk enyuh